Kesenian adalah bagian dari kebudayaan yang harus kita jaga dan lestarikan, karena kesenian merupakan salah satu kekayaan bahkan identitas bangsa Indonesia. Indonesia kaya akan seni dan budaya daerahnya, setiap daerah mempunyai keseniannya masing-masing, bahkan tak sedikit yang menjadikan kesenian tersebut sebagai salah satu identitas daerahnya. Daerah Cirebon merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak bentuk-bentuk kesenian baik seni musik, seni tari maupun wayang. Diantaranya sebagai berikut: dalam bidang seni musik ada tarling, gambus, qasidah, genjring dogdog dan yang lainnya. Sedangkan dibidang seni tari terdapat tari topeng, sintren, tayub, tari Ronggeng Bugis.
  Kondisi kesenian yang ada di daerah Cirebon masih sangat diminati oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya berbagai macam bentuk kesenian yang dimiliki sanggar-sanggar padepokan seni di Kabupaten Cirebon. Berikut data yang telah berhasil didapat mengenai macam-macam kesenian yang ada di kabupaten Cirebon yang telah diakui oleh pemerintah daerah setempat. Berikut daftar nama jenis kesenian grup dan sanggar yang ada di Kabupaten Cirebon.Kesenian-kesenian yang ada di Kabupaten Cirebon diantaranya ada seni tari, seni musik dan wayang serta nama grup seni atau sanggar seni yang ada di Kabupaten Cirebon. Kesenian-kesenian tersebut berada diberbagai desa yang ada di Kabupaten Cirebon.
   Situasi Komunikasi Ekspresif Tari Ronggeng Bugis Cirebon tidak terlepas dari bunyi musik yang mengiringi yakni ketipung yang bertindak sebagai pemimpin pertunjukan, yang mengatur dan mengendalikan irama tabuhan yang disajikan diawal maupun diakhir pertunjukan. Peristiwa ekspresif dalam Tari Ronggeng Bugis Cirebon menyangkut tipe peristiwa, topik, fungsi atau tujuan, setting, partisipan, bentuk pesan seperti bahasa yang digunakan, isi pesan dan urutan tindak, serta kaidah dan norma interpretasi. Tari Ronggeng Bugis merupakan tipe peristiwa yang disajikan dalam bentuk hiburan-hiburan untuk menyambut tamu, hajatan dan kegiatan budaya lainnya.
     Topik yang diangkat dalam seni pertunjukan Tari Ronggeng Bugis Cirebon adalah masalah politik dalam hal terbentuknya pasukan telik sandi atau penyamaran seorang prajurit Cirebon. Fungsi Tari Ronggeng Bugis selain sebagai seni pertunjukan yang bersifat menghibur juga didalamnya terkandung suatu ajaran luhur bahwa kita hendaknya hidup sederhana, panarima, berkarya, ulet dan waspada selain itu juga memiliki sikap keperwiraan atau heroisme.
    Bahasa yang digunakan pada pertunjukan seni Tari Rongeng Bugis adalah bahasa non verbal yaitu berupa bentuk ekspresif, karakteristik gerakan, dan isyarat yang digunakan oleh penari 10 Ronggeng Bugis Cirebon.
Tari Ronggeng Bugis temasuk tarian jenaka, yang lucu dan menghibur, dikenal oleh masyarakat Jawa dengan nama dagelan. Berbeda dengan tari Ronggeng lain, tari Ronggeng Bugis ditarikan oleh laki-laki, selain itu keberadaan tari Ronggeng Bugis sendiri sudah diakui oleh masyarakat Cirebon kota dan Cirebon barat. Masalah penelitian yaitu Bagaimana Eksistensi Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing Plumbon Cirebon.
           Tari Ronggeng Bugis pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati dijadikan sebagai alat komunikasi kerajaan dengan musuh untuk mendapatkan sebuah informasi yang bisa menguntungkan bagi pemerintahan Sunan Gunung Jati. Sampai saat ini Tari Ronggeng Bugis biasa ditarikan oleh laki-laki bukan perem puan. Karena keunikannya itu Tari Ronggeng Bugis menjadi salah satu kesenian yang disukai oleh masyarakat Cirebon. Mulai dari kalangan orang dewasa hingga anak-anak menyukai tarian yang menghibur seperti tari Ronggeng Bugis ini.
Tari Ronggeng Bugis yang telah dikembangkan oleh alm. bapak Handoyo pertama kali dipentaskan pada acara Festival Keraton Nusantara 1994, selanjutnya tari Ronggeng Bugis selalu diikutsertakan dalam acara Festival Nusantara tersebut yang dimulai pada tahun 1994 di Yogyakarta.
  Menurut penuturan dari bapak Dayat dan bapak Wili yang merupakan penari dari Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing, Tari Ronggeng Bugis dibawakan oleh duta budaya Pramuka Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon ke berbagai daerah seperti pada tanggal 22-23 september 2002 di Lampung Selatan, 23-31 Agustus 2005 di Kepulauan Seribu, tahun 2008 ke Palembang. Keikutsertaan tari Ronggeng Bugis tersebut tidak terlepas dari peran pelatih dan para penari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing yang mengajarkan tari Ronggeng Bugis kepada mahasiwa di STAIN Cirebon.
      Kemudian Juni 2009 tari Ronggeng Bugis Sanggar Pringgadhing dipertunjukan pada festival di Jambi. Kemudian dalam acara Car Free Day Siliwangi Kota Cirebon 2014, Pembukaan Hotel Batiqa Cirebon 2015, pergelaran seni budaya tradisional di Taman Budaya Bandung Jawa Barat 2015 dan 2016, Festival Pesona Cirebon Maret 2016, Haul Bapak Handoyo Agustus 2016, Anjungan Jawa Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 2016, April 2017 turut berpartisipasi dalam Hari Jadi ke-246 Kabupaten Gianyar Bali, dan terakhir ini tari Ronggeng Bugis Sanggar Pringgadhing juga ikut serta dalam mengisi acara dalam rangka Pemilihan Jaka Rara Kota Cirebon pada 21 Mei 2017. Eksistensi tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing telah ditunjukan dengan adanya pementasan-pementasan yang dilakukan sampai tahun 2019.
    Tari Ronggeng Bugis dimasyarakat Cirebon sudah mengalami kemajuan. Dengan banyaknya masyarakat yang mengenal dan mengetahui tari yang biasa disebut telik sandi itu membuktikan bahwa tari Ronggeng Bugis eksis, keberadaannya diakui oleh masyarakat dan penonton atau penikmat seni. Tari Ronggeng Bugis cukup terkenal di daerah Cirebon kota, sedangkan di daerah Cirebon timur, Tari Ronggeng Bugis tidak cukup terkenal karena kurangnya pementasan tari di daerah Cirebon Timur terutama Tari Ronggeng Bugis. Meskipun setiap keberadaan suatu karya khususnya karya seni tidak semua masyarakat dapat menerima eksistensinya, namun jika ada sebagian dari mereka yang mengapresiasi karya seni itu dengan baik maka menjadi hal yang membanggakan bagi para seniman yang berkarya maupun yang telah ikut berpartisipasi didalamnya.
   Diakuinya Tari Ronggeng Bugis di kota Cirebon tak lain karena adanya kiprah para pelaku seni dan sanggar yang ikut serta dalam melestarikan dan mengembangkannya sampai saat ini. Sanggar sangat perperan penting dalam menentukan kemajuan atau kemunduran suatu karya seni.
         Bertahannya tari Ronggeng Bugis sampai tahun 2019 ini tentu dipengaruhi oleh minat masyarakat atau penonton pada tari Ronggeng Bugis. Sanggar Pringgadhing juga ikut melestarikan dengan adanya perkembangan dalam tari Ronggeng Bugis baik itu dalam hal garak maupun kostum dan musik iringannya, kemudian Sanggar Pringgadhing juga masih mempertahankan keaslian dari tari Ronggeng Bugis dan menyebarluaskan tari Ronggeng Bugis melalui pendidikan dan budaya daerah setempat. Itulah yang membuat tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing sampai saat ini masih eksis dan selalu membuat penonton tertarik dan mengapresiasi tari Ronggeng Bugis.
Terdapat pula perkembangan pada perubahan fungsi dari tari Ronggeng Bugis yaitu sebagai hiburan dan sarana pendidikan. Fungsi tari Ronggeng di Sanggar Pringadhing saat ini selain sebagai hiburan yaitu tariannya hanya dapat dinikmati sebagai hiburan yang menghibur dengan bobot tarian yang ringan 60 namun masih tedapat nilai-nilai keindahan didalamnya, dan fungsi tari Ronggeng Bugis sudah menjadi sarana pendidikan maksudnya yaitu tari Ronggeng Bugis sudah dijadikan alat untuk pendidikan dengan menggunakan nilai-nilai yang ada pada tarian untuk tujuan pendidikan, contoh nilai-nilai pendidikan yang ada pada tari Ronggeng Bugis untuk siswa ialah akan lebih melatih rasa percaya diri, mengasah kreativitas dan belajar menjadi seorang mata-mata yang cerdas. Selain itu karena masyarakat masih ingin mempertahankan tari Ronggeng Bugis sebagai kesenian Cirebon dan masyarakat juga merasa senang dan terhibur saat melihat tari Ronggeng Bugis.