Tari ronggeng bugis, selalu memiliki keunikan tersendiri dalam setiap
jengkal gerakan tari nya. Tari ronggeng bugis yang memiliki fungsi sebagai
gerakan tari telik sandi. ama Bugis yang dikenal sebagian masyarakat, akan mengira jika tari
ini berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Namun, itu hanyalah sebuah nama
tarian yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat.
Tarian yang di padu dengan gerakan tari komedi ini dimainkan oleh
satu atau beberapa penari laki-laki yang menggunakan busana wanita. Busana yang
digunakan adalah busana mirip badut yang memiliki kesan lucu, sehingga tak
jarang masyarakat yang melihat pun tertawa. Hal tersebut merupakan ciri khas
dari tarian Ronggeng Bugis ini.
Ikhwan salah satu pelaku seni di Cirebon, menuturkan, nama tari
ini berasal dari dua kata yaitu Ronggeng dan Bugis. Secara umum, Ronggeng
adalah penari wanita. Sedangkan Bugis adalah nama sebuah suku di Sulawesi
Selatan.
Awal mulanya dinamakan seperti itu, dikarenakan pada masa Sunan
Gunung Jati, dia membuat suatu strategi untuk memata-matai Kerajaan Pakuan
Padjajaran dengan melakukan penyamaran sebagai seorang penari ronggeng, yang
dilakukan oleh pasukan Bugis yang ada di Cirebon kala itu.
"Saat itu, Sunan Gunung Jati menyatakan merdeka dan terbebas
dari Kerajaan Pakuan Pajajaran, sehingga dia membuat strategi untuk
memata-matai dengan melakukan penyamaran," kata Ikhwan, disela
kegiatannya, Minggu (17/3/2019).
Jika melihat sejarahnya, ujar Ikhwan, kala
itu daerah Cirebon sudah terbebas dari kekuasaan Kerajaan Maharaja Pakuan
Padjajaran. Sunan Gunung Jati menyatakan kemerdekaan. Lalu, Sunan Gunung Jati
membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Pasukan Telik Sandi. Pasukan ini
bertugas untuk melakukan kegiatan spionase di wilayah Padjajaran untuk
mengetahui deklarasi kewenangan penuh negara Islam di Cirebon.
"Pada saat itu, Kerajaan Cirebon dibantu oleh pasukan Bugis
yang ada di Cirebon. Dengan menyamar sebagai ronggeng yang biasanya dilakukan
oleh wanita ini, digantikan oleh pria yang berdandan layaknya seorang penari
wanita," terangnya.
Seperti yang diketahui, dari penyamaran yang dilakukan oleh para
pasukan yang bermacam-macam jenisnya tersebut, akhirnya membawa kemenangan bagi
misi pasukan Sunan Gunung Jati, dari situlah cikal bakal tari Ronggeng Bugis
tercipta.
"Hingga sekarang, tarian ini menjadi seni pertunjukkan rakyat
yang sangat menghibur," tambahnya.
Gerakan yang dilakukan dalam tarian ini
menimbulkan kesan lucu, karena setiap gerakan mereka harus selalu waspada pada
saat menjalankan suatu penyamaran, takut diketahui oleh para musuhnya.
Meskipun dalam pelaksanannya lumayan sulit, karena terkadang sifat
laki-lakinya muncul pada saat menari. Pakaiannya sendiri, terdiri dari semacam
kemeja perempuan bermotif, kain batik, selendang, serta aksesoris seperti bunga
yang diletakkan di kepala.
"Tari Ronggeng Bugis ini ialah salah satu dari banyaknya
tarian tradisional yang ada di Jawa Barat. Tapi sayang, tari ini belum terlalu
dikenal oleh masyarakat
Ronggeng Bugis adalah
pertunjukan tari komedi yang diperankan oleh laki-laki dengan memakai busana
wanita. Yang dimaksud dengan busana wanita di sini pun bukanlah busana dengan
tata rias yang cantik, akan tetapi lebih mendekati busana mirip badut yang mengundang
gelak tawa.Kostum Tari Ronggeng Bugis terdiri dari: kain jarit batik
atau motif, kebaya, kestagen/stagen, kace, boro, anting-anting mainan, bandana
kembang goyang/sanggul kembang goyang. kain dan baju kebaya yang harus dipakai
penari tidak harus kain batik bermotif khas Cirebon yaitu motif mega mendung.
Karena untuk mengangkat kebudayaa daerah Cirebon dengan motif kain batik mega
mendung maka mayoritas sanggar yang ada di Cirebon termasuk Sanggar
Pringgadhing menggunakan kain batik bermotif mega mendung. Sedangkan kebaya
yang digunakan juga tidak paten harus kebaya jaman dahulu, namun dengan
berkembangnya zaman kebayanyapun makin bervariasi. Yang terpenting adalah
motifnya yang ramai dan warnanya yang cerah karena menggambarkan seorang wanita
penyamar. Busana atau kostum dan asesoris Tari Ronggeng Bugis meliputi : Kebaya
berwarna terang, kain atau jarit yang bermotif bunga ataupun batik, sampur
berwarna terang, kace untuk dibagian belakang, kace untuk dibagian depan, boro,
sabuk, stagen, bando kembang goyang, dan anting2.
Para penari semuanya laki-laki yang menggunakan kebaya berwarna
menyolok dan terang. Sanggul kecil ditempelkan di belakang kepala pada posisi
miring. Make up menyolok dan gambar bibir yang miring sehingga perpaduan
seluruh hiasan yang digunakan memunculkan kesan lucu yang mengundang tawa. Tata
rias dan pakaian yang digunakan tidak selamanya baku. Semua dapat berubah-ubah
sesuai dengan bayangan kesan yang akan mengundang gelak tawa penonton.
Jumlah penari pada satu pementasan tidak ditentukan secara
khusus. Rata-rata berjumlah antara empat sampai dengan sembilan orang. Jumlah
penari akan disesuaikan dengan luas arena pertunjukkan. Tarian tersebut
rata-rata memerlukan arena cukup luas karena dilakukan dengan gerakan lincah
penuh gerakan atraktif dan dilakukan oleh beberapa penari.
Atraksi tari dimulai dengan munculnya seorang penari yang
memperagakan gerakan lucu. Gerakan tarian yang dibawakan beritmik pelan dan
gemulai. Setelah itu, muncul enam penari lain beriringan melakukan gerakan tari
yang sama, berlenggang-lenggok dengan berbagai gerakan. Gerakan selanjutnya
adalah gerakan yang mengandung cerita lucu. Berbagai gerakan lucu tersebut
berlangsung antara sepuluh hingga lima belas menit. Kelucuan tidak terbatas
pada gerakan, juga memanfaatkan hiasan yang dikenakan. Misalnya sanggul salah
seorang penari copot, lalu sanggul tersebut dilemparkan ke arah pemain gamelan,
dan lain sebagainya.
Jalannya pertunjukan, apabila dilakukan
pada panggung pertunjukan diawali dengan tetalu kurang lebih selama 5 menit.
Penari keluar pada penampilan pertama gerak tarinya masih lembut. Pada
penampilan berikutnya gerak tarinya lincah dan dinamis, semua anggota tubuh
termasuk mata, mulut dan rambut digerakkan dengan lucu dan di dominasi oleh
gerak mengintai dan mengawasi. Apabila telah dianggap cukup waktunya, maka
pertunjukan diakhiri dengan gerak tari berjalan. Penari Telik Sandi biasa
ditarikan oleh minimum 4 orang bahkan bisa sampai belasan orang. Namun setiap
individu penari bisa melakukan improvisasi gerak sesuai dengan gaya
masing-masing. Asal mula tari Ronggeng Bugis, dilatar belakangi ketegangan
yang terjadi antara kerajaan Cirebon dengan Kerajaan Islam. Sunan Gunung Djati
sebagai Raja Cirebon saat itu menyuruh seorang kerabat kerajaan yang berasal
dari Bugis untuk memata-matai atau saat itu dikenal dengan istilah telik sandi
Kerajaan Pajajaran. Waditra atau pengiring musik yang dipakai pada pertunjukan
tari telik sandi atau ronggeng bugis ini adalah alat musik tradisional jawa
barat antara lain Kelenang, Gong kecil, Kendang, Kecil, dan Kecrek
Wajah penari dirias secara jenaka, memakai gelungan kecil
dan bunga. Kostum terdiri dari kebaya berwarna menyala, terkadang memakai rompi
dan kain batik dodot yang diikat dengan stagen. Atau menggunakan variasi lain
dengan penampilan yang mencolok yang mengundang gelak tawa.
Sanggar pringgadhing pernah menampilkan kostum ibu hamil tua yang atraktif.
Pada kesempatan lain gelungan kecil tidak difiksasi secara kuat, sehingga
gelungan rambut tersebut terjatuh yang mengundang senyum lebar penonton.

0 Komentar