Berdasarakan jumlah penarinya dalam kajian koregrafi, tari Ronggeng Bugis termasuk dalam tari kelompok. Mengapa tari kelompok, karena tari ini dilakukan oleh lebih dari 3 orang.
     Pada awal kemunculan Tari Ronggeng Bugis biasa ditarikan oleh enam hingga 12 orang yang terdiri dari satu wanita yang dijadikan komandan pada saat itu dan selebihnya prajurit laki-laki maka penentunya hanya karena tarian kelompok dan penarinya mayoritas laki-laki namun dengan perkembangan zaman, Tari Ronggeng Bugis saat ini sudah bisa ditarikan tidak hanya laki-laki dewasa, melainkan perempuan dewasa dan remaja putra-putri. Jadi disini gender berpengaruh pada Tari Ronggeng Bugis. Namun sampai saat ini setiap kali ada 62 pementasan di luar sanggar seperti undangan atau permintaan dari dinas, maka Sanggar Pringgadhing membawa penari laki-laki untuk menarikan tari Ronggeng Bugis.
      Dalam tari Ronggeng Bugis jumlah penari aslinya adalah sekitar 9-12 orang, namun jumlah ini tidak paten dalam setiap pertunjukannya. Jadi jumlah penari tari Ronggeng Bugis menyesuaikan acara atau permintaan dari pengundang. Sanggar Pringgadhing lebih menekankan pada setiap acaranya terutama undangan untuk acara-acara besar Kabupaten Cirebon, atau permintan dari Dinas Kebudayaan yaitu para penarinya laki-laki dewasa, sedangkan dalam jumlahnya itu tidak menentu. Perbedaanya mungkin dalam komposisi tarinya jika penari lebih sedikit jadi lebih sederhana, namun jika jumlah penari banyak maka akan lebih berfariasi lagi komposisinya.
     Tari Ronggeng Bugis merupakan tarian yang ditarikan oleh laki-laki yang menirukan gerak perempuan. Jumlah penari tidak menentu tergantung situasi dan kondisi acara serta tempat pertunjukan. Misalnya dalam acara kirab budaya Cirebon, dan Car Free Day, tari Ronggeng Bugis disajikan dalam bentuk helaran dan jumlah penari bisa 6-15 orang dengan jalan raya sebagai tempat pertunjukannya dan tidak ada batas antara penari dan penonton. Kemudian jika dalam pertunjukan diatas panggung tari Ronggeng Bugis bisa menampilkan penari dalam bentuk kelompok kecil maupun besar yaitu 3-15 orang. Kelompok kecil sekitar tiga sampai enam orang jika dipanggung tertutup dan jika ditampilkan di panggung terbuka yang lebih lebar seperti panggung yang ada di Gua Sunyaragi bisa mencapai 15 orang. menurut jumlah penari tari Ronggeng Bugis memang tidak menentu, namun lebih baik ditarikan kelompok besar karena pola lantai akan lebih terlihat dinamis dan bervariasi.
     Saat pertunjukan tari Ronggeng Bugis biasa mengajak penonton untuk ikut serta menari dalam salah satu gerakan didalam Tari Ronggeng Bugis dan itu salah satu yang membuat penonton selau menanti-nanti Tari Ronggeng Bugis dalam setiap pertunjukanya. Selain itu dalam setiap pertunjukan Tari Ronggeng Bugis terdapat satu kapten atau komandan untuk mengawali tarian. Untuk menjadi seorang komandan harus memiliki kelebihan yaitu kelebihan dalam membuat orang tertawa dengan tingkahnya yang lucu dan konyol namun tetap terlihat natural atau tidak dibuat-buat.
      Gerak Tari Ronggeng bugis termasuk dalam tari yang jika dilihat dari segi pola garapnya yaitu sebagai tari trdisi kerakyatan, hal ini dapat dilihat dari bagaimana bapak Handoyo (alm) menciptakan gerak-gerak yang sederhana, pola lantai yang biasa digunakan oleh tari-tari tradisi kerakyatan yaitu pola garis lengkung dan garis lurus. Meskipun Tari Rongeng Bugis sudah memiliki gerak paten, selain itu juga menitikberatkan pada keterampilan dan eksplorasi gerak penarinya. Untuk menarikan Tari Ronggeng Bugis, tidak hanya bisa dalam teknis menari, tetapi lebih ditekankan juga untuk mampu membawa emosi penonton agar ikut serta dalam menikmati tarian lewat ekspresi dramatik para penari. Pola gerak yang digunakan oleh penari Ronggeng Bugis adalah gerak tari tradisi kreasi dan bukan gerakan seperti pada tari klasik.             Meskipun tari Ronggeng Bugis ditarikan oleh penari laki-laki, namun gerak yang digunakan bukan gerakan yang gagah, kuat dan bervolume. Namun gerak dalam tari Ronggeng Bugis lebih 64 menitik beratkan pada pola-pola gerak dengan mengandalkan kelenturan gestur tubuh dan dibuat gerak-gerak spontanitas untuk menambah kesan humor didalamnya, termasuk di dalamnya mengolah ekspresi wajah yang menghasilkan mimik lucu. Gerak-gerak yang ada dalam tari Ronggeng Bugis lebih banyak menggunakan gerak-gerak maknawi yang menyimbolkan gerak-gerak sebagai seorang mata-mata
    Ragam gerak tari:
1. Incek panimbal
Incek panimbal merupakan nama ragam gerak pertama dalam Tari Ronggeng Bugis. Ragam ini dilakukan dengan kaki berjalan memutar dan tangan kanan memegang sampur yang dilebarkan kesamping. Tangan kiri miwir sampur dan diletakan tepat di samping pinggul.
2. Longok
Longok berarti melihatlihat atau menengok kearah kanan dan kiri dengan maksud rasa ingin tahu atau melihat situasi atau sebagai gambaran pengintaian. Longok termasuk gerak kepala yang dilakukan saling bergantian secara berulang-ulang, dan terkadang dilakukan oleh dua penari sambil jalan berputar
3. Incek Iliran
Incek iliran dilakukan dengan kaki berjalan ditempat dan tangan kanan dihempaskan sampai kesamping telinga dan tangan kiri memegang sampur.
4. Lenggang
Lenggang berarti mengayunkan tangan sambil jalan dengan berlenggak lenggok. Denan tangan kanan ngrayung dan tangan kiri nyekithing ditekuk kedalam tepat disamping Pinggul.
5. Injen
Injen berarti mengintip atau melakukan pengintaian. Dengan kaki yang dibuka lebar kaki depan kedepan dan kaki kiri kebelakang. Kedua tangan miwir sampur dan dan diletakkan di samping dengan kedua tangan dibuka dan pandangan menoleh ke arah kiri dan kanan.
6. Uiliran
Uliran dilakukan dengan tangan kanan diputar disamping pelipis kanan dan tangan kiri menopang tangan kanan, gerak ini dilakukan sambil berjalan atau hanya ditempat. Gerak uliran ini disibolkan sebagai gerak untuk berpikir melakukan sesuatu atau mencari ide.
7. Blubuk Nyungkur
Ragam gerak blukuk nyungkur merupakan gerak yang dilakukan dengan loncat-loncat sambil mengintai atau melihat situasi
8. Dedengulan
Dedengulan ialah menari berpasangan berhadaphadapan dengan menganggukan kepala secara memutar dan dilakukan dengan pasangan atau bisa juga dilakukan sendiri. gerak dedengulan merupakan simbol atau memiliki arti saling berbagi informasi.
9. Napak gili
Ragam gerak Napak Gili berarti berjalan pelanpelan dengan merentangkan kedua tangan kesampng yang dirapatkan dengan teman-teman disamping kiri dan kanan masingmasing. Gerak napak gili merupakan simbol atau memiliki arti berjalan  perlahan untuk mengintai musuh.
10. Grubugan
Grubugan dilakukan dengan membalikan badan atau membelakangi penonton sambil menggoyangkan pinggul kekiri-dan kekanan dan dilakukan secara berkelompok dan saling berdempetan. Gerka ini memiliki arti untuk mengelabui musuh.
11. Incek Blarak Sengke
Incek Blarak Sengke ditarikan dengan berjalan memutar dan kedua tangan nyekithing menjepit sampur kearah samping kiri.
12. Sirig Injen
Sirig Injen ditarikan dengan kaki jinjit secara bergantian dan lari kecilkecil kemudian posisi kepala menoleh kekiri dan kedua tangan berada di pelipis rahang kanan dengan telapak tangan kanan terbuka dan tangan kiri membuat angka satu dengan jari teluntuk.
13. Gepak-gepak
Gepak-gepak dilakukan dengan berjalan ditempat dan kedua tangan disilangkan dan dibuka secara bergantian didepan wajah.
14. Lembean
Lembean dilakukan dengan berjalan sambil kedua tangan mengayun kesamping secara bergantian. Dengan Posisi badan tetap mendak
15. Silir
Silir merupakan ragam gerak yang menyimbolkan selamat tinggal atau sampai jumpa.
16. Napak Galeng
Napak Galeng dilakukan dengan kedua tangan miwir kedua sampur kesamping dan kaki ditapakkan ke depan secara bergantian
17. Bubungahan
Bubungahan sebagai ragam penutup Tari Ronggeng Bugis. Gerakan ini merupakan gerak inprovisasi para penari.