Tata Rias Tari Ronggeng Bugis adalah rias karakter badut, rias wajah penari dibuat mencolok dengan rias wajah para penari dibuat seperti make up karakter badut atau pemain pantomim, dengan lukisan atau rias jenaka yang berkaitan dengan fungsi dan tema dari tari Ronggeng Bugis yaitu sebagai hiburan.Tata rias bagi seorang penari merupakan hal yang sangat penting. Rias juga merupakan hal yang paling peka dihadapan penonton, karena penonoton biasanya sebelum menikmati tarian selalu memperhatikan wajah penarinya, baik untuk mengetahui tokoh/ peran yang sedang dibawakan maupun untuk mengetahui siapa penarinya. Misalnya apakah penarinya tampak cantik atau gagah, apakah rias penari mencerminkan karakter peran yang sedang dilakukan, dan sebagainya. Fungsi rias antara lain adalah untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh yang sedang dibawakan, untuk memperkuat ekspresi, dan untuk menambah daya tarik penampilan. Tata rias merupakan unsur yang berperan penting dalam setiap pertunjukan tari Ronggeng Bugis. Rias badut yang terlihat mencolok dibagian wajah yang dibuat lucu dengan memakai bedak yang sangat putih dan tebal, kemudian kedua pipi dengan pemerah pipi yang mencolok dibentuk bulat, memakai lipstik berwarna merah dengan bentuk yang keluar dari garis bibir asli dan rias alis yang tidak simetris. Sehingga rias wajahnya terlihat lucu, mengelitik yang akan mengundang gelak tawa bagi para penonton yang melihatnya. Dalam acara Jaka Rara Kota Cirebon 2017 yang dilaksanakan di Hotel Swiss-Belhotel pada tanggal 21 Mei 2017 lalu Sanggar Pringgadhing menampilkan tari Ronggeng Bugis dengan enam penari dengan make up yang digunakan ialah rias karakter badut. Perlu diketahui bahwa riasan wajah dalam tari Ronggeng Bugis, berapapun penarinya dalam setiap pementasan, pasti menggunakan rias karakter badut pada setiap penarinya dengan rias yang berbeda dibagian garis-garis dibagian mata, garis-garis dibagian mulut dan tahi lalat buatan, itu tidak menunjukan perbedan karakter atau adanya tokoh dalam setiap penari, namun rias wajah ini hanya untuk menunjang penampilan agar kesan lucu dan humor tari Ronggeng Bugis semakin kuat dan lebih muncul.
Musik Iringan Tari Ronggeng Bugis merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu tarian. Musik iringan yang digunakan tari Ronggeng Bugis menggunakan iringan Improvisasi dari beberapa alat musik tradisional Cirebon. Musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Ronggeng Bugis merupakan musik eksternal, disebut eksternal karena semua musik berasal dari luar diri penari yaitu semua musik berasal dari pemain musik baik musik yang dimainkan dengan alat musik maupun dengan suara sorak-sorai para pemain musik. Tari Ronggeng Bugis dapat dipentaskan tidak hanya diatas panggung namun sering juga dipentaskan dalam bentuk Halaran maka alat musik yang dimainkan pun berbeda dan jumlah alat musik yang di atas panggung biasanya menggunakan gamelan lengkap, jika dalam bentuk halaran musik yang digunakan untuk mengiringi tari Ronggeng Bugis hanya beberapa alat musik saja . Alat musik yang dimainkan berasal dari gamelan Cirebon bukan gamelan sunda, yang menggunakan laras pelog. Bunyi tabuhan musik iringan dalam tari Ronggeng Bugis ikut mewarnai dan menegaskan situasi komunikasi dengan hentakan music yang dapat membawa emosi para penari maupun penonton, karena bisa mengantarkan makna atau pesan yang ada di dalam tari Ronggeng Bugis, bunyi tabuhan yang menghentak dan semangat dapat menggambarkan dan membangkitkan jiwa heroisme bagi para penarinya. Berikut notasi musik pengring tari Ronggeng Bugis dan nama-nama instrumen musik pengiring yang digunakan untuk mengiringi Tari Ronggeng Bugis ialah: Bonang, kempyang, kendang sunda, gong, kempul, kecrek, klenang, dan kendang ketipung
.
Panggung Pementasan Tari Ronggeng Bugis Widyastutieningrum dan Wahyudiarto (2014) pada dasarnya ruang pentas dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. Pertama pentas proscenium di mana penonton hanya dapat melihat dan mengamati pementasan tari dari satu sisi depan saja. Dimensi ketiga atau kedalaman ruangan memang harus tetap diusahakan, tetapi karena desain gerak hanya ditunjukan kesatu sisi, hasilnya berbeda jika menata tari untuk sebuah pentas arena, dimana penonton dapat mengamati pementasan tari dari ketiga sisi atau bahkan dari segala arah (pentas melingkar). Tempat pertunjukan tari Ronggeng Bugis biasanya disebut dengan nama halaran atau pawai yang biasa ditampilkan di jalan raya atau tempat umum dan di panggung terbuka seperti yang ada di Gua Sunyaragi Cirebon. Namun setelah diakui sebagai tarian tradisi Cirebon dan hidup di dalam keraton, berkat bapak Handoyo (alm) akhirnya tari Ronggeng Bugis diangkat menjadi tari pertunjukan di atas panggung dengan kemasan gerak dan busana yang artistik. Panggung pertunjukan yang biasa digunakan untuk pementasan tari Ronggeng Bugis berbentuk panggung terbuka. Pangugung (pentas) terbuka berarti panggung berada di udara terbuka. Biasanya tidak ada batasan atau jarak antara penari dan penonton jika dipentaskan secara halaran, dan dapat pula diadakan disebuah panggung yang tinggi atau landai dimana penonton berada di bawah atau di depan tempat tersebut. Seperti beberapa gambar di bawah ini yang menjadi tempat pertunjukan tari Ronggeng Bugis.

0 Komentar