Ronggeng Bugis Ronggeng yang berasal dari kata renggana (Sanskerta) diartikan “wanita pujaan”. Ketika masa kerajaan di Pulau Jawa wanita-wanita pujaan ini bertugas sebagai penghibur tetamu bila raja melaksanakan suatu upacara besar. Hiburan yang diberikan berupa tarian diiringi bunyi alat musik tradisional dan nyanyian sinden. Wanita-wanita yang bertugas menghibur ini adalah hasil seleksi dengan syarat berparas cantik, bisa menyanyi, dan menggoyangkan tubuh sesuai irama.
Definisi
ronggeng di atas mensyaratkan bahwa penari ronggeng haruslah wanita karena yang
ditonjolkan dalam hal ini adalah selain kemampuan bernyanyi juga kemolekan
tubuh ketika menari. Tarian yang dilakukan kebanyakan adalah tarian “ajakan”
kepada penonton untuk turut menari menggunakan seutas selendang yang
dikalungkan kepada penonton yang dipilih, sementara penonton yang diajak akan
dengan sendirinya memberi uang kepada penari dengan jumlah yang tidak
ditentukan. Semakin tinggi status penonton yang ikut menari semakin besar nilai
uang yang akan diberikan, ini dikenal dengan istilah sawer.
Untuk wilayah
Provinsi Jawa Barat Tari Ronggeng yang terkenal adalah: Ronggeng Gunung,
Ronggeng Kidul, Ronggeng Kaler, Ronggeng Amen, dan Ronggeng Bugis. Persebaran
Ronggeng Gunung, Kaler, Kidul, dan Amen di sekitar Kabupaten Ciamis dan Kota
Banjar, sedangkan Ronggeng Bugis adanya di Kota/Kabupaten Cirebon. Kata Bugis
merujuk pada salah satu suku bangsa di Provinsi Sulawesi Selatan yang
diperkirakan berasal dari suku Deutro-melayu atau Melayu muda yang memasuki
Nusantara pasca gelombang migrasi pertama dari Yunan. Perkataan Bugis berasal
dari kata “To Ugi” (orang Bugis). Kata “Ugi” berasal dari nama raja pertama
Kerajaan Cina (salah satu daerah yang sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan
Pammana Kabupaten Wajo) yaitu La Sattumpugi.
Disebutkan bahwa
rakyat Kerajaan Cina pada masa lalu apabila menyebut keberadaan diri mereka
selalu menyebut To Ugi yang berkonotasi dengan penyebutan sebagai orangnya La
Sattumpugi.Pada masa-masa berikutnya sebutan to ugi (orangnya Lasattumpuugi)
berubah menjadi “to ugi” (pengucapan yang sama tetapi bermakna orang yang
berasal dari daerah atau bersuku bugis), sehingga sebutan tersebut telah
menunjuk pada etnik yang berasal dari jazirah Sulawesi Selatan.
Orang-orang yang
berasal dari etnik inilah yang diklaim telah menjadi bagian dari pasukan
Kerajaan Cirebon sebagai telik sandi yang kemudian hari menjadi salah satu nama
seni pertunjukan masyarakat Cirebon. Persebaran suku Bugis pada masa berikutnya
menjadi suatu komunitas yang menghuni sebagian besar wilayah selatan dari Pulau
Sulawesi. Suku Bugis berkembang juga bersama dengan bahasa, aksara, dan
pemerintahan monarki masingmasing sama dengan suku Makassar yang mendiami
daerah paling selatan Pulau Sulawesi. Beberapa kerajaan pernah terbentuk dan
menjadi besar seperti Kerajaan Luwu, Bone, Soppeng, Wajo, Suppa dan Sawitto,
Sidenreng dan Rappang. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten
di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap,
Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dan Makassar adalah
Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan
Mandar adalah Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Polmas (Kabupaten Polmas dan Mandar
sekarang masuk wilayah Provinsi Sulawesi Barat).
Bila merujuk
pada definisi ronggeng di atas, maka tampaknya terdapat pengecualian untuk
jenis tarian tradisional Ronggeng Bugis ini, karena penaripenarinya bukan dari
kalangan wanita tetapi para pria yang menari dan berlenggok secara teratur. Hal
lainnya adalah penari ronggeng wanita merias diri atau pun dirias agar tampil
makin cantik, tetapi penari Ronggeng Bugis justru dirias dengan make up yang
tidak beraturan mirip riasan badut sehingga menimbulkan kesan lucu menggelikan.
Belum lagi gerak tari mereka kadang ditampilkan dengan atraktif mengajak
penonton untuk bergoyang bersama. Kesan lucu ini memang sengaja ditampilkan
karena pada masa lalu tarian ini bertujuan mengumpulkan informasi militer
sehingga sifatnya adalah penyamaran. Gerakan tari acak-acak ini untuk
mengelabui musuh padahal sejatinya para penari maupun pemusiknya adalah para
prajurit yang melakukan pengamatan terhadap kekuatan musuh. Jika hasil
pengamatan mereka menunjukkan kondisi musuh dapat diatasi, maka beberapa waktu
kemudian dilakukan serangan sporadis.
Ronggeng Bugis
ketika dilahirkan adalah sebuah grup intelijen dengan tugas utama memata-matai
musuh Kerajaan Cirebon yang saat itu menjadi bagian dari Mataram. Tugas
penyamaran ini dilakukan oleh sepasukan orang-orang dari suku Bugis yang khusus
didatangkan oleh VOC untuk membantu Mataram meredam pemberontakan Trunojoyo.
Karena orangorang Bugis yang menjadi penari maka tarian ini dinamakan Ronggeng
Bugis. Nama Ronggeng Bugis akhirnya melekat menjadi nama jenis tarian massal.
Tetapi karena
Ronggeng Bugis
dilahirkan dalam masa perang, maka fungsi utamanya adalah pasukan telik sandi
dengan nama samaran dan kode operasi Ronggeng Bugis. Informasi yang diperoleh
dari penerus sekaligus pelatih tari Ronggeng Bugis bahwa pada masa-masa
berikutnya tari Ronggeng Bugis dipentaskan masih sesuai dengan peruntukannya
yaitu tugas memata-matai tetapi sudah tidak dilakukan oleh orang-orang Bugis
melainkan puteraputera Cirebon yang tetap menggunakan nama Ronggeng Bugis
(Handoyo, wawancara. 17 Mei 2011 dan Elang Komara Hadi, wawancara. 18 Mei
2011). Tugas memata-matai ini juga berlangsung ketika masa Revolusi Kemerdekaan
Republik Indonesia tahun 1945-1950 dan masa penumpasan DI/TII dengan ciri khas
tarian massal (ibid).
Selain sejarah
tari Ronggeng Bugis secara umum dikalangan masyarakat Cirebon Barat seperti
yang diceritakan diatas, selanjutnya sejarah tari Ronggeng Bugis di Sanggar
Pringgadhing dimulai dari dedikasi bapak Handoyo (alm) yang saat itu sebagai seorang
koreografer Kacirebonan sekaligus pendiri Sanggar Pringgadhing, beliau awalnya
mengajarkan tari Ronggeng Bugis di Keraton Kacirebonan kemudian berkat adanya
dukungan dari Petinggi Keraton maka Ronggeng Bugis mulai dikenal oleh
masyarakat dan keluar dari tembok keraton. Dan mulai diajarkan di Sanggar
Pringgadhing oleh bapak Handoyo untuk menjadi seni pertunjukan yang menarik dan
diminati oleh masyarakat.
Sejak saat
itulah masyarakat luas mengenal tari Ronggeng Bugis pertama kali dari Sanggar
Pringgadhing. Alasan bapak Handoyo (alm) mengangkat tari Ronggeng Bugis menjadi
seni pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas ialah karena beliau
menganggap bahwa tari Ronggeng Bugis merupakan bagian dari Sejarah Cirebon,
selain itu tariannya juga unik, dan lucu sehingga dapat membuat penonton
tertarik untuk menonton atau bahkan mempelajari tari Ronggeng Bugis. Tari
Ronggeng Bugis mulai dikenal oleh masyarakat Cirebon pada tahun 1994 dan
berkembang di Sanggar Pringgadhing sampai saat ini tahun 2019 karena peran
serta bapak Handoyo dan kawan-kawannya.
Selain itu para
penari tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing sampai saat ini masih sama
yaitu penarinya lakilaki dewasa umur 25-40 tahun dikarenakan ingin tetap
menonjolkan keistimewaan tari Ronggeng Bugis yang ada di Sanggar Pringgadhing.
Hal ini juga yang menjadi daya tarik masyarakat bahkan dinas kebudayaan dan
pariwisata untuk bekerjasama dengan Sanggar Pringgadhing dan ikut melestarikan
tari tradisi yang ada di Cirebon kususnya tari Ronggeng Bugis. Tari Ronggeng
Bugis awalnya adalah kesenian yang ada di daerah Cangkring, pelaku seninya
bernama bapak Tiswo. Saat itu tahun 1994 akan diadakan Festival Kesenian
Jawa-Madura, untuk persiapan acara tersebut akhirnya diang kat oleh tiga pelaku
seni yaitu, pak Tiswo, Budayawan Cirebon Pak Kartani, dan yang seniman bapak
Handoyo (alm). Awalnya tari Ronggeng Bugis hanya memiliki tiga gerakan, karena
kebutuhan acara akhirnya ketiga pelaku seni bekerjasama menggarap tari Ronggeng
Bugis dan dihasilkanlah 17 ragam gerak yang sampai saat ini digunakan oleh
SanggarPringgadhing.

0 Komentar