Keunikan Tari Ronggeng Bugis Ronggeng yang
berasal dari kata renggana (Sanskerta) diartikan “wanita pujaan”. Ketika masa
kerajaan di Pulau Jawa wanita-wanita pujaan ini bertugas sebagai penghibur
tetamu bila raja melaksanakan suatu upacara besar. Hiburan yang diberikan
berupa tarian diiringi bunyi alat musik tradisional dan nyanyian sinden.
Wanita-wanita yang bertugas menghibur ini adalah hasil seleksi dengan syarat
berparas cantik, bisa menyanyi, dan menggoyangkan tubuh sesuai irama
(ENI,1990:249). Defenisi ronggeng di atas mensyaratkan bahwa penari ronggeng
haruslah wanita karena yang ditonjolkan dalam hal ini adalah selain kemampuan
bernyanyi juga kemolekan tubuh ketika menari. Tarian yang dilakukan kebanyakan
adalah tarian “ajakan” kepada penonton untuk turut menari menggunakan seutas
selendang yang dikalungkan kepada penonton yang dipilih, sementara penonton
yang diajak akan dengan sendirinya memberi uang kepada penari dengan jumlah
yang tidak ditentukan. Semakin tinggi status penonton yang ikut menari semakin
besar nilai uang yang akan diberikan, ini dikenal dengan istilah sawer. Untuk
wilayah Provinsi Jawa Barat Tari Ronggeng yang terkenal adalah: Ronggeng
Gunung, Ronggeng Kidul, Ronggeng Kaler, Ronggeng Amen, dan Ronggeng Bugis.
Persebaran Ronggeng Gunung, Kaler, Kidul, dan Amen di sekitar Kabupaten Ciamis
dan Kota Banjar, sedangkan Ronggeng Bugis adanya di Kota/Kabupaten Cirebon.
Kata Bugis merujuk pada salah satu suku bangsa di Provinsi Sulawesi Selatan
yang diperkirakan berasal dari suku Deutro-melayu atau Melayu muda yang
memasuki Nusantara pasca gelombang migrasi pertama dari Yunan. Perkataan Bugis
berasal dari kata “To Ugi” (orang Bugis). Kata “Ugi” berasal dari nama raja
pertama Kerajaan Cina (salah satu daerah yang sekarang masuk dalam wilayah
Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo) yaitu La Sattumpugi. Disebutkan bahwa rakyat
Kerajaan Cina pada masa lalu apabila menyebut keberadaan diri mereka selalu
menyebut To Ugi yang berkonotasi dengan penyebutan sebagai orangnya La
Sattumpugi (http://kampungbugis.com. Tanggal akses 15 April 2011). Pada
masa-masa berikutnya sebutan to ugi (orangnya Lasattumpuugi) berubah menjadi
“to ugi” (pengucapan yang sama tetapi bermakna orang yang berasal dari daerah
atau bersuku bugis), sehingga sebutan tersebut telah menunjuk pada etnik yang
berasal dari jazirah Sulawesi Selatan. Orang-orang yang berasal dari etnik
inilah yang diklaim telah menjadi bagian dari pasukan Kerajaan Cirebon sebagai
telik sandi yang kemudian hari menjadi salah satu nama seni pertunjukan
masyarakat Cirebon. Persebaran suku Bugis pada masa berikutnya menjadi suatu
komunitas yang menghuni sebagian besar wilayah selatan dari Pulau Sulawesi.
Suku Bugis berkembang juga bersama dengan bahasa, aksara, dan pemerintahan
monarki masingmasing sama dengan suku Makassar yang mendiami daerah paling
selatan Pulau Sulawesi. Beberapa kerajaan pernah terbentuk dan menjadi besar
seperti Kerajaan Luwu, Bone, Soppeng, Wajo, Suppa dan Sawitto, Sidenreng dan
Rappang. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten di wilayah
Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang,
Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dan Makassar adalah Bulukumba,
Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar
adalah Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Polmas (Kabupaten Polmas dan Mandar
sekarang masuk wilayah Provinsi Sulawesi Barat). Bila merujuk pada definisi
ronggeng di atas, maka tampaknya terdapat pengecualian untuk jenis tarian
tradisional Ronggeng Bugis ini, karena penaripenarinya bukan dari kalangan
wanita tetapi para pria yang menari dan berlenggok secara teratur. Hal lainnya
adalah penari ronggeng wanita merias diri atau pun dirias agar tampil makin
cantik, tetapi penari Ronggeng Bugis justru dirias dengan make up yang tidak beraturan
mirip riasan badut sehingga menimbulkan kesan lucu menggelikan. Belum lagi
gerak tari mereka kadang ditampilkan dengan atraktif mengajak penonton untuk
bergoyang bersama. Kesan lucu ini memang sengaja ditampilkan karena pada masa
lalu tarian ini bertujuan mengumpulkan informasi militer sehingga sifatnya
adalah penyamaran. Gerakan tari acak-acak ini untuk mengelabui musuh padahal
sejatinya para penari maupun pemusiknya adalah para prajurit yang melakukan
pengamatan terhadap kekuatan musuh. Jika hasil pengamatan mereka menunjukkan
kondisi musuh dapat diatasi, maka beberapa waktu kemudian dilakukan serangan
sporadis. Ronggeng Bugis ketika dilahirkan adalah sebuah grup intelijen dengan
tugas utama memata-matai musuh Kerajaan Cirebon yang saat itu menjadi bagian
dari Mataram. Tugas penyamaran ini dilakukan oleh sepasukan orang-orang dari
suku Bugis yang khusus didatangkan oleh VOC untuk membantu Mataram meredam
pemberontakan Trunojoyo. Karena orangorang Bugis yang menjadi penari maka
tarian ini dinamakan Ronggeng Bugis. Nama Ronggeng Bugis akhirnya melekat
menjadi nama jenis tarian massal. Tetapi karena Ronggeng Bugis dilahirkan dalam
masa perang, maka fungsi utamanya adalah pasukan telik sandi dengan nama
samaran dan kode operasi Ronggeng Bugis. Informasi yang diperoleh dari penerus
sekaligus pelatih tari Ronggeng Bugis bahwa pada masa-masa berikutnya tari
Ronggeng Bugis dipentaskan masih sesuai dengan peruntukannya yaitu tugas
memata-matai tetapi sudah tidak dilakukan oleh orang-orang Bugis melainkan puteraputera
Cirebon yang tetap menggunakan nama Ronggeng Bugis (Handoyo, wawancara. 17 Mei
2011 dan Elang Komara Hadi, wawancara. 18 Mei 2011). Tugas memata-matai ini
juga berlangsung ketika masa Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun
1945-1950 dan masa penumpasan DI/TII dengan ciri khas tarian massal (ibid).
Selain sejarah tari Ronggeng Bugis secara umum dikalangan masyarakat Cirebon Barat seperti yang diceritakan diatas, selanjutnya sejarah tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing dimulai dari dedikasi bapak Handoyo (alm) yang saat itu sebagai seorang koreografer Kacirebonan sekaligus pendiri Sanggar Pringgadhing, beliau awalnya mengajarkan tari Ronggeng Bugis di Keraton Kacirebonan kemudian berkat adanya dukungan dari Petinggi Keraton maka Ronggeng Bugis mulai dikenal oleh masyarakat dan keluar dari tembok keraton. Dan mulai diajarkan di Sanggar Pringgadhing oleh bapak Handoyo untuk menjadi seni pertunjukan yang menarik dan diminati oleh masyarakat.
Sejak saat itulah masyarakat luas mengenal
tari Ronggeng Bugis pertama kali dari Sanggar Pringgadhing. Alasan bapak
Handoyo (alm) mengangkat tari Ronggeng Bugis menjadi seni pertunjukan yang
dapat dinikmati oleh masyarakat luas ialah karena beliau menganggap bahwa tari
Ronggeng Bugis merupakan bagian dari Sejarah Cirebon, selain itu tariannya juga
unik, dan lucu sehingga dapat membuat penonton tertarik untuk menonton atau
bahkan mempelajari tari Ronggeng Bugis. Tari Ronggeng Bugis mulai dikenal oleh
masyarakat Cirebon pada tahun 1994 dan berkembang di Sanggar Pringgadhing
sampai saat ini tahun 2019 karena peran serta bapak Handoyo dan kawan-kawannya.
Selain itu para penari tari Ronggeng Bugis di
Sanggar Pringgadhing sampai saat ini masih sama yaitu penarinya lakilaki dewasa
umur 25-40 tahun dikarenakan ingin tetap menonjolkan keistimewaan tari Ronggeng
Bugis yang ada di Sanggar Pringgadhing. Hal ini juga yang menjadi daya tarik
masyarakat bahkan dinas kebudayaan dan pariwisata untuk bekerjasama dengan
Sanggar Pringgadhing dan ikut melestarikan tari tradisi yang ada di Cirebon
kususnya tari Ronggeng Bugis. Tari Ronggeng Bugis awalnya adalah kesenian yang
ada di daerah Cangkring, pelaku seninya bernama bapak Tiswo. Saat itu tahun
1994 akan diadakan Festival Kesenian Jawa-Madura, untuk persiapan acara tersebut
akhirnya diang kat oleh tiga pelaku seni yaitu, pak Tiswo, Budayawan Cirebon
Pak Kartani, dan yang seniman bapak Handoyo (alm). Awalnya tari Ronggeng Bugis
hanya memiliki tiga gerakan, karena kebutuhan acara akhirnya ketiga pelaku seni
bekerjasama menggarap tari Ronggeng Bugis dan dihasilkanlah 17 ragam gerak yang
sampai saat ini digunakan oleh SanggarPringgadhing.

0 Komentar