1. Tari Kipas Pakarena merupakan ekspresi kesenian masyarakat Gowa yang sering dipentaskan untuk mempromosi pariwisata Sulawesi Selatan. Dalam bahasa setempat, “pakarena” berasal dari kata “karena” yang memiliki arti “main”. Tarian ini sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan bekas Kerajaan Gowa. Tidak ada yang tahu persis sejarah tarian ini. Namun menurut mitos, tarian Pakarena berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (negeri khayangan) dengan penghuni lino (Bumi) pada zaman dahulu. Konon sebelum berpisah, penghuni boting langi sempat mengajarkan bagaimana cara menjalani hidup, bercocok tanam, beternak, dan berburu kepada penghuni lino, melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Selanjutnya, gerakan-gerakan itu pula yang dipakai penghuni limo sebagai ritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada penghuni boting langi. Ekspresi kelembutan akan banyak terlihat dalam gerakan tarian ini, mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, setia, patuh dan hormat terhadap laki-laki pada umumnya, khususnya terhadap suami. Tarian ini sebenarnya terbagi dalam 12 bagian, meski agak susah dibedakan oleh orang awam karena pola gerakan pada satu bagian cenderung mirip dengan bagian lainnya. Tapi setiap pola mempunyai maknanya sendiri. Seperti gerakan duduk yang menjadi tanda awal dan akhir pementasan tarian Pakarena. Gerakan berputar searah jarum jam melambangkan siklus hidup manusia. Sementara gerakan naik turun mencerminkan roda kehidupan yang kadang berada di bawah dan kadang di atas. Tarian Kipas Pakarena memiliki aturan yang cukup unik, di mana penarinya tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar, sementara gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Tarian ini biasanya berlangsung selama sekitar dua jam, jadi penarinya dituntut untuk memiliki kondisi fisik yang prima.Sementara itu, tabuhan Gandrang Pakarena yang disambut dengan bunyi tuip-tuip atau seruling akan mengiringi gerakan penari. Gemuruh hentakan Gandrang Pakarena yang berfungi sebagai pengatur irama dianggap sebagai cermin dari watak kaum lelaki Sulawesi Selatan yang keras. Sebagai pengatur irama musik pengiring, pemain Gandrang harus paham dengan gerakan tarian Pakarena. Kelompok pemusik yang mengiringi tarian ini biasanya berjumlah tujuh orang, dan dikenal dengan istilah Gondrong Rinci. 2. Tari Jala Sutera merupakan salah satu tarian kreasi yang diciptakan oleh Handoyo Muhammad Yuli selaku pimpinan Sanggar Seni Pringgading Desa Plumbon, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. Tari Jala Sutera diciptakan pada tahun 1994 yang pada awalnya tarian ini dibuat untuk mengikuti Festival Tari Nusantara di Jakarta pada bulan September 1994. Proses penggarapan Tari Jala Sutera membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan. Tari Jala Sutera bertema tentang Prajurit Putri, yang di dalamnya menceritakan sifat asli perempuan sendiri dan kegigihan perempuan sebagai seorang prjuritt, yang mana di balik kegigihan seorang prajurit putrid, masih menyimpan keaslian sifat sebagai seorang perempuan. Secara keseluruhan Tari Jala Sutera menceritakan tentang keggihan prajurit putri yang ditugaskan untuk menyelundup musuh secara halus, tanpa menghilangkan sift asli perempuan itu sendiri. Koreografi inti pada Tari Jala Sutera adalah ngitir. Ngitir merupakan koreografi inti dalam setiap tarian yang diciptakan oleh Handoyo adalah Gerakan Ngitir, yag mana dalam gerakan ngitir tersebut terdiri dari gerakan lampahan, trisi miring, ngitir (putaran 180 derajat), dan geser. Tari Jala Sutera dalam penyajiannya yaitu menggunakan Properti Cundrik yang dimasukkan ke dalam tretes. Cundrik tersebut menjadi khas pada Tari Jala Sutera itu sendiri, selain bentuknya yang unik, Cundrik disini digunakan sebagai senjata oleh para prajurit putri tersebut. Selain sebagai senjata, Cundrik ini digunakan juga sebagai hiasan pada kepala untuk mengelabui musuh.
0 Komentar