Perkembangan tari ronggeng bugis Tema-tema sejarah kebudayaan sangat banyak dan beragam dan ada di setiap wilayah NKRI. Jenisnya pun bermacam-macam pula, misalnya beragam seni (lukis, patung, pahat, tari, suara, musik, drama, dan sebagainya), kerajinan (pembuatan genting, batu bata, kendi, tikar, kulit hewan,dan sebagainya), olah raga tradisional (pencak silat, sepak raga, debus, dan sebagainya), dan permainan tradisional (gasing, egrang, bebedilan, dan sebagainya). Semuanya dapat menjadi objek penelitian dan pengkajian sejarah kebudayaan. Tari Ronggeng Bugis masuk dalam kategori sejarah kebudayaan yaitu melakukan pengkajian sejarah pada seluruh struktur dan proses kegiatan manusia menurut dimensi ideasional, etis, dan estetis. Di antaranya beragam jenis kesenian (yang masih ada atau yang sudah punah), etika, etiket pergaulan, upacara adat, siklus kehidupan dalam keluarga sehari-hari, pendidikan, permainan, mode, dan jenis makanan (Kartodirdjo, 1992: 17,176,195,199). Penelitian sejarah kebudayaan tentang kesenian tradisional Ronggeng Bugis dilakukan untuk mengungkap informasi tentang riwayat dan perkembangan jenis tari massal ini. Informasi yang ada menyebutkan Ronggeng Bugis dibentuk bersamaan dengan lahirnya Kerajaan Cirebon oleh Sunan Gunung Jati dengan mengerahkan “orang-orang Bugis” ada juga menyebut “pasukan Bugis” menjadi anggota pasukan telik sandi atau mata-mata kerajaan. Sayangnya informasi ini kurang didukung oleh data terutama data tentang keberadaan dan peranan orang Bugis di Cirebon pada saat itu. Penelitian ini mencoba menelusuri keberadaan orang Bugis di Cirebon melalui pendekatan kajian historis dari peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-orang Bugis di perantauan pada kurun waktu berdirinya Kerajaan Cirebon sampai pemberontakan Trunojoyo. Ini dimaksudkan untuk memberi penjelas tentang asal muasal Ronggeng Bugis. Beberapa sumber menyebutkan bahwa, “Ronggeng Bugis lahir bersamaan dengan terbentuknya Kerajaan Cirebon oleh Sunan Gunung Djati. Disebutkan bahwa orang Bugis ini adalah kerabat Kerajaan Cirebon yang diperintahkan menyamar untuk mendapatkan informasi tentang aktivitas Kerajaan Pajajaran paska terbentuknya Kerajaan Cirebon” (http://www.disparbud.jabarprov.go.id.) Tanggal akses 6 Agustus 2012). Sumber lain menyebutkan bahwa, “Ronggeng Bugis adalah tarian penyamaran yang dilakukan sahabat Sunan Gunung Djati dari Bugis” (http://puslitmas.stsi-bdg.ac.id. Tanggal akses 6 Agustus 2012). “Tari ini adalah tari penyamaran untuk menyelidiki kekuatan Pajajaran terdiri dari 12 hingga 20 orang dipimpin satu orang komandan, informasi yang diperoleh kemudian diteruskan kepada Sunan Gunung Djati” (http://forum.viva.co.id. Tanggal akses 6 Agustus 2012). Sumber berikutnya mengungkapkan bahwa, “Tahun 1482, setelah Sunan Gunung Djati menyatakan Cirebon merdeka dari kekuasaan Pajajaran dibentuklah pasukan telik sandi untuk melakukan tugas spionase di wilayah Pajajaran. Anggota pasukan ini adalah orang-orang yang berani, bermental kuat,
      cerdas serta pandai menyamar. Mereka berasal dari prajurit-prajurit Bugis yang juga bertugas di era Galuh, masa Portugis, dan kolonial” (Irianto, 18 Juni 2009:1). Kutipan di atas rata-rata menyebutkan bahwa Ronggeng Bugis dilahirkan semasa dengan lahirnya Kerajaan Cirebon tahun 1482. Penyebutan kata ”bugis” juga merujuk kepada kelompok suku bangsa Bugis seperti yang ada di daratan Sulawesi bagian Selatan, juga disebutkan bahwa pasukan telik sandi dengan nama Ronggeng Bugis dilakukan oleh sahabat/kerabat Sunan Gunung Jati yang berasal dari tanah Bugis. Tulisan di forum.viva.co.id malah diawali dengan kalimat ..”orang Bugis sudah melupakan tarian ini.” padahal di tanah Bugis tarian ini tidak dikenal. Ronggeng Bugis hanya ada di Cirebon. Permasalahan yang muncul adalah informasi yang menyebutkan bahwa orang Bugis telah menjadi bagian atau turut menjadi anggota pasukan Kerajaan Cirebon sejak awal dibentuknya kerajaan ini dengan posisi sebagai anggota pasukan telik sandi atau mata-mata kerajaan, tidak didukung oleh data berupa dokumen melainkan hanya bersifat oral history. Penelitian semacam ini menurut Stake (2009: 300-311) bersifat studi kasus intrinsik yaitu pemilihan objek yang tidak disertai dengan tujuan pengembangan teori, melainkan terbatas memahami sebuah kasus tertentu karena dianggap menarik (Ratna, 2010: 191). Peranan orang Bugis di Cirebon pada abad XV terutama awal terbentuknya Kerajaan Cirebon (apalagi peranan tersebut sangat penting karena menjadi salah satu kekuatan utama Kerajaan Cirebon) menjadi suatu informasi yang berharga, apalagi ditambah suatu dugaan bahwa keberadaan orang Bugis tersebut adalah dalam rangka mempelajari agama Islam. Tetapi bisa saja berarti bahwa para perantau Bugis ini awalnya memiliki tujuan berdagang kemudian menjadi penetap dan mengabdikan diri kepada Sunan Gunung Djati, sehingga segmen mempelajari agama Islam bagi orang Bugis ini tidak serta merta menjadi suatu tugas dari tempat asal perantauannya kemudian kelak kembali ke tanah Bugis untuk menyebarkan agama Islam tersebut. Sumber-sumber Bugis seperti lontara tidak ada memberitakan hal itu. Hal ini terjadi karena di tanah Bugis, ketika Kerajaan Cirebon terbentuk, masih menganut kepercayaan animisme. Pengaruh Islam baru terjadi ± 200 tahun kemudian di Sulawesi bagian Selatan, ketika kerajaan Makassar dan kerajaan-kerajaan Bugis menerima Islam pada awal abad XVII. Ronggeng yang berasal dari kata renggana (Sanskerta) diartikan “wanita pujaan”. Ketika masa kerajaan di Pulau Jawa wanita-wanita pujaan ini bertugas sebagai penghibur tetamu bila raja melaksanakan suatu upacara besar. Hiburan yang diberikan berupa tarian diiringi bunyi alat musik tradisional dan nyanyian sinden. Wanita-wanita yang bertugas menghibur ini adalah hasil seleksi dengan syarat berparas cantik, bisa menyanyi, dan menggoyangkan tubuh sesuai irama (ENI,1990:249).
Tari Ronggeng Bugis yang telah dikembangkan oleh alm. bapak Handoyo pertama kali dipentaskan pada acara Festival Keraton Nusantara 1994, selanjutnya tari Ronggeng Bugis selalu diikutsertakan dalam acara Festival Nusantara tersebut yang dimulai pada tahun 1994 di Yogyakarta. Menurut penuturan dari bapak Dayat dan bapak Wili yang merupakan penari dari Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing, Tari Ronggeng Bugis dibawakan oleh duta budaya Pramuka Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon ke berbagai daerah seperti pada tanggal 22-23 september 2002 di Lampung Selatan, 23-31 Agustus 2005 di Kepulauan Seribu, tahun 2008 ke Palembang. Keikutsertaan tari Ronggeng Bugis tersebut tidak terlepas dari peran pelatih dan para penari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing yang mengajarkan tari Ronggeng Bugis kepada mahasiwa di STAIN Cirebon.
Kemudian Juni 2009 tari Ronggeng Bugis Sanggar Pringgadhing dipertunjukan pada festival di Jambi. Kemudian dalam acara Car Free Day Siliwangi Kota Cirebon 2014, Pembukaan Hotel Batiqa Cirebon 2015, pergelaran seni budaya tradisional di Taman Budaya Bandung Jawa Barat 2015 dan 2016, Festival Pesona Cirebon Maret 2016, Haul Bapak Handoyo Agustus 2016, Anjungan Jawa Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 2016, April 2017 turut berpartisipasi dalam Hari Jadi ke-246 Kabupaten Gianyar Bali, dan terakhir ini tari Ronggeng Bugis Sanggar Pringgadhing juga ikut serta dalam mengisi acara dalam rangka Pemilihan Jaka Rara Kota Cirebon pada 21 Mei 2017. Eksistensi tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing telah ditunjukan dengan adanya pementasan-pementasan yang dilakukan sampai tahun 2019 dan alhamdulillah perkembangan tari bugis di indonesia terutama di daerah cirebon sangat bagus banyak para pemuda dan pemudi khusus nya di daerah cirebon sendiri banyak di minati