Panggung PementasanTari Ronggeng Bugis Widyastutieningrum dan Wahyudiarto (2014) pada dasarnyaruang pentas dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. Pertama pentas
proscenium di mana penonton hanya dapat melihat dan mengamati pementasan tari
dari satu sisi depan saja. Dimensi ketiga atau kedalaman ruangan memang harus
tetap diusahakan, tetapi karena desain gerak hanya ditunjukan kesatu sisi,
hasilnya berbeda jika menata tari untuk sebuah pentas arena, dimana penonton
dapat mengamati pementasan tari dari ketiga sisi atau bahkan dari segala arah
(pentas melingkar). Tempat pertunjukan tari Ronggeng Bugis biasanya disebut
dengan nama halaran atau pawai yang biasa ditampilkan di jalan raya atau tempat
umum dan di panggung terbuka seperti yang ada di Gua Sunyaragi Cirebon. Namun
setelah diakui sebagai tarian tradisi Cirebon dan hidup di dalam keraton,
berkat bapak Handoyo (alm) akhirnya tari Ronggeng Bugis diangkat menjadi tari
pertunjukan di atas panggung dengan kemasan gerak dan busana yang artistik.
Panggung pertunjukan yang biasa digunakan untuk pementasan tari Ronggeng Bugis
berbentuk panggung terbuka. Pangugung (pentas) terbuka berarti panggung berada di
udara terbuka. Biasanya tidak ada batasan atau jarak antara penari dan penonton
jika dipentaskan secara halaran, dan dapat pula diadakan disebuah panggung yang
tinggi atau landai dimana penonton berada di bawah atau di depan tempat
tersebut. Seperti beberapa gambar di atas ini yang menjadi tempat pertunjukan tari Ronggeng
Bugis.
Tata
pentas dalam pengertian luas adalah suasana seputar gerak laku di atas pentas
dan semua elemen-elemen visual atau yang terlihat oleh mata yang mengitari
pemeran dalam pementasan. Tata pentas dalam pengertian teknik terbatas yaitu
benda yang membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi batas lingkungan
gerak laku. Dengan mengacu pada definisi di atas dapat ditarik suatu pengertian
bahwa tata pentas adalah semua latar belakang dan benda-benda yang ada
dipanggung guna menunjang seorang pemeran memainkan lakon.
Panggung menurut
Purwadarminta ialah lantai yang bertiang atau rumah yang tinggi atau lantai
yang berbeda ketinggiannya untuk bermain sandiwara, balkon atau podium. Dalam
seni pertunjukan panggung dikenal dengan istilah Stage melingkupi pengertian
seluruh panggung. Jika panggung merupakan tempat yang tinggi agar karya seni
yang diperagakan diatasnya dapat terlihat oleh penonton, maka pentas juga
merupakan suatu ketinggian yang dapat membentuk dekorasi, ruang tamu, kamar
belajar, rumah adat dan sebagainya. Pementasan Ronggeng Bugis diiringi oleh gamelan/waditra yang
terdiri atas : kelenang, gong kecil, kendang kecil, kecrek, dan saron.
Disisi lain panggung juga berperan sangat penting dalam
pementasan sebuah tarian
Salah satu unsur penting
dalam pementasan teater adalah tata cahaya atau lighting. Lighting adalah penataan
peralatan pencahayaan, dalam hal ini adalah untuk untuk menerangi panggung
untuk mendukung sebuah pementasan. Sebab, tanpa adanya cahaya, maka
pementasan tidak akan terlihat. Secara umum itulah fungsi dari tata cahaya.
Dalam teater, lighting terbagi menjadi dua yaitu:
1. Lighting sebagai
penerangan. Yaitu fungsi lighting yang hanya sebatas menerangi panggung beserta
unsur-unsurnya serta pementasan dapat terlihat.
2. Lighting sebagai
pencahayaan. Yaitu fungsu lighting sebagai unsur artisitik pementasan. Yang
satu ini, bermanfaat untuk membentuk dan mendukung suasana sesuai dengan
tuntutan naskah.
II. Unsur-unsur dalam lighting.
Dalam tata cahaya ada
beberapa unsur penting yang harus diperhatikan, antara lain :
1. Tersedianya peralatan
dan perlengkapan. Yaitu tersedianya cukup lampu, kabel, holder dan beberapa
peralatan yang berhubungan dengan lightingdan listrik. Tidak ada standard yang pasti seberapa banyak
perlengkapan tersebut, semuanya bergantung dari kebutuhan naskah yang akan
dipentaskan.
2. Tata letak dan titik
fokus. Tata letak adalah penempatan lampu sedangkan titik fokus adalah daerah
jatuhnya cahaya. Pada umumnya, penempatan lampu dalam pementasan adalah di atas
dan dari arah depan panggung, sehingga titik fokus tepat berada di daerah
panggung. Dalam teorinya, sudut penempatan dan titk fokus yang paling efektif
adalah 450 di atas panggung. Namun semuanya itu sekali lagi
bergantung dari kebutuhan naskah. Teori lain mengatakan idealnya, lighiting dalam sebuah pementasan (apapun jenis
pementasan itu) tatacahaya harus menerangi setiap bagian dari panggung, yaitu
dari arah depan, dan belakang, atas dan bawah, kiri dan kanan, serta bagian
tengah.
3. Keseimbangan warna.
Maksudnya adalah keserasian penggunaan warna cahaya yang dibutuhkan. Hal ini
berarti, lightingman harus
memiliki pengetahuan tentang warna.
4. Penguasaan alat dan
perlengkapan. Artinya lightingman harus
memiliki pemahaman mengenai sifat karakter cahaya dari perlengkapan tata
cahaya. Tata cahaya sangat berhubungan dengan listrik, maka anda harus
berhati-hati jika sedang bertugas menjadi light setter atau penata cahaya.
5. Pemahaman naskah.
Artinya lightingman harus
paham mengenai naskah yang akan dipentaskan. Selain itu, juga harus memahami
maksud dan jalan pikiran sutradara sebagai ‘penguasa tertinggi’ dalam
pementasan.
Dalam sebuah pementasan, semua orang memiliki peran yang sama
pentingnya antara satu dengan lainnya. Jika salah satu bagian terganggu, maka
akan mengganggu jalannya proses produksi secara keseluruhan. Begitu pula dengan
“tukang tata cahaya’. Dia juga menjadi bagian penting selain sutradara dan
aktor, disamping make up, stage manager, dan unsur lainnya. Dengan kata
lain, lightingman juga
harus memiliki disiplin yang sama dengan semua pendukung pementasan.
Dari paparan di atas, semuanya dapat dicapai dengan belajar
mengenai tata cahaya dan unsur pendukung lainnya.
III. Istilah dalam tata cahaya.
1. lampu: sumber cahaya, ada bermacam, macam
tipe, seperti par 38, halogen, spot, follow light, focus light, dll.
2. holder: dudukan lampu.
3. kabel: penghantar listrik.
4. dimmer: piranti untuk mengatur intensitas cahaya.
5. main light: cahaya yang berfungsi untuk menerangi
panggung secara keseluruhan.
6. foot light: lampu untuk menerangi bagian bawah panggung.
7. wing light: lampu untuk menerangi bagian sisi panggung.
8. front light: lampu untuk menerangi panggung dari arah
depan.
9. back light: lampu untuk menerangi bagian belakang
panggung, biasanya ditempatkan di panggung bagian belakang.
10. silouet light: lampu untuk membentuk siluet pada backdrop.
11. upper light: lampu untuk menerang bagian tengah panggung,
biasanya ditempatkan tepat di atas panggung.
12. tools: peralatan pendukung tata cahaya, misalnya
circuit breaker (sekring), tang, gunting, isolator, solder, palu, tespen,
cutter, avometer, saklar, stopcontact, jumper, dll.
13. seri light, lampu yang diinstalasi secara seri atau
sendiri-sendiri. (1 channel 1 lampu)
14. paralel light, lampu yang diinstalasi secara paralel (1
channel beberapa lampu).
Seperti yang telah di ungkapkan di atas, secara sederhana
hal-hal tersebut adalah yang pada umumnya harus diketahui oleh lightingman,
selanjutnya baik tidaknya tatacahaya bergantung pada pemahaman, pengalaman dan
kreatifitas dari lightingman.
Intinya, jika ingin menjadi ‘lightingman sejati’, Anda harus banyak belajar dan mencoba (trial and error).
ASAS-ASAS PENATAAN CAHAYA
Kursus ini meninjau cahaya dari segi teori dan manfaat
mencahayakan suatu pementasan. Tumpuan diberikan terhadap hal-hal berikut:
• Fungsi dan kualitas cahaya
• Aspek rekabentuk dalam cahaya
• Asas elektrik; mengenali bentuk-bentuk seri dan paralel serta
menggunakan undang-undang Ohm untuk menyelesaikan masalah tentang arus,
rintangan, voltan dan tenaga.
• Aspek optik – iaitu aspek pantulan dan pembiasan cahaya di
dalam berbagai permukaan jenis reflektor dan ciri-cirinya tentang pembiasan
cahaya.
• Jenis dan fungsi lampu yang digunakan di dalam teater
• Kegunaan warna di dalam pementasan teori warna dan pengawalan
warna
• Sistem pemalap [dimmer system] – manual dan memory
• Mencipta ‘light plot’ dan membentuk ‘lighting cues’
TRIK APLIKASI WARNA
1. Aplikasi warna cerah
pada salah satu elemen luar, misalnya untuk warna merah bata pada pagar,
menjadi aksen untuk keseluruhan rumah.
2. Warna netral untuk
fasad bangunan lebih baik, tapi jika ingin menggunakan wana cerah, aplikasikan
hanya pada satu bidang.
3. Perpaduan warna
cokelat dengan hijau dapat membuat atmosfer ruang menjadi lebih tenang.
4. Abu-abu muda serta
hijau kecokelatan mampu menghadirkan kecerahan dalam ruangan.
5. Pada warna ruangan
yang terlihat monoton, tambahkan cahaya buatan agar ruangan lebih “hidup”.
6. Warna-warna lembut dan
cahaya buatan yang temaram dapat memberikan kehangatan dan keakraban suasana
pada ruang keluarga dan kamar tidur.
7. Permainan dinding
dengan warna natural akan membuat ruangan lebih luas.
8. Warna dinding natural
yang berbeda-beda pada setiap ruang akan menciptakan suasana yang berbeda pula
untuk masing-masing ruang tersebut.
9. Pagar merah bata,
dinding abu-abu tua, dan dinding abu kecokelatan membuat tampilan rumah lebih
dinamis.
10. Untuk menghilangkan
kesan gelap di kamar mandi, gunakan keramik warna krem pada dinding dan putih
pada lantai.
11. Unsur dekor juga
memanfaatkan cahaya untuk membantu suasana tertentu. Misalnya, cahaya terang
menyiratkan siang hari, atau cahaya berwarna biru menyiratkan suasana malam
hari. Cahaya berwarna juga digunakan untuk memberi aksentuasi pada adegan atau
tokoh tertentu.

0 Komentar