Sanggar seni pringgadhing merupakan generasi
kedua yang dipimpin oleh putranya Windu Bayu segara selepas beliau meninggl
tahun 2014.
Sanggar seni Pringgadhing terletak di
desa Purbawinangun Kecamatan Plumbon.Sanggar Pringgadhing terbangun karena rasa
cinta Handoyo Mokhamad Yulidengan kesenian Cirebon, banyak sekali seni yang
dipelajari di sanggarnya sepertitari dan karawitan. Banyak tari yang diciptakan
di sanggar seni Pringgadhing danpernah dipentaskan di mancanegara dengan
berbagai event, yakni tari Panyengrahmah Agung, tari Kuntul Manglayang,
tari Jala Sutra, Tari Kipas, dan tari Semilir. Salah satu karya unggulan dari
sanggar Pringgadhing adalah Tari Ronggeng Bugis.
Seni di Jawa
Barat berkembang pesat dibandingkan dengan daerah lain karena para senimannya
tidak berpikir kaku dan mengikuti perkembangan zaman. Tiap kota ataupun
kabupaten yang ada di Jawa Barat tak luput dari perkembangan tari seni, salah
satunya Cirebon. Di Cirebon banyak terdapat kesenian yang tumbuh dan berkembang
di masyarakat baik seni tradisi ataupun kreasi baru dalam seni rupa, musik,
maupun tarinya. Adapun seni tradisi yang terdapat di Cirebon, seperti gamelan
renteng, sintren, tayuban, wayang kulit, wayang golek cepak, genjring
akrobatik, tarling, sampyong, lais, angklung bungko, jaran lumping, berokan,
dan topeng. Seni tari tradisi di Cirebon berasal dari keraton atau pusat-pusat
kekuasaan dan berkembang pada masyarakat sekitarnya. Seni tari tradisi yang ada
di Cirebon, misalnya tari bedaya rimbe, tari bedaya kajongan, tari topeng, dan
tayub. Seni tari tradisi ini dikembangkan oleh seniman Cirebon sebagai pijakan
membuat tari kreasi dengan memadukan beberapa seni ataupun budaya dari Cirebon
dan budaya daerah lain bahkan budaya luar, misalnya tari batik, tari manggala
yuda, tari ronggeng pesisir, tari burung, dan tari semilir. Dalam upaya untuk
ngopeni tradisi bangsa sendiri, karena tradisi-tradisi yang merupakan warisan
dari nenek moyang maka pada tahun 70-an munculah sanggar-sanggar seni yang
berdedikasi pada kesenian tari dan karawitan. Kabupaten Cirebon sebagai daerah
budaya tertentu akan terus menjadi sorotan dan penilaian dari berbagai pihak di
berbagai pelosok nusantara dan dunia. Salah satu kekuatan Kabupaten Cirebon ada
karya kreasi para senimannya ditopang oleh karya pemikiran kreatif para seniman
dan budayawannya. Banyak sanggar yang berdiri di Kabupaten Cirebon, yaitu
sanggar seni Panji Asmara, sanggar seni Nimas Mayangsari, sanggar seni Sekar
Budaya, sanggar Panji Budaya, Sanggar Tri Tunggal Budaya, dan sanggar seni
Pringgadhing. Kecamatan Plumbon yang terdapat satu sanggar seni yaitu Sanggar
Pringgadhing yang sudah ada sejak tahun 1974 dipimpin oleh Handoyo Mokhamad
Yuli. Sanggar seni Pringgadhing terletak di desa Purbawinangun Kecamatan
Plumbon. Sanggar Pringgadhing terbangun karena rasa cinta Handoyo Mokhamad Yuli
dengan kesenian Cirebon, banyak sekali seni yang dipelajari di sanggarnya
seperti tari dan karawitan. Banyak tari yang diciptakan di sanggar seni
Pringgadhing dan pernah dipentaskan di mancanegara dengan berbagai event, yakni
tari Panyengrahmah Agung, tari Kuntul Manglayang, tari Jala Sutra, tari
Ronggeng Bugis, Tari Kipas, dan tari Semilir. Salah satu karya unggulan dari
sanggar Pringgadhing adalah Tari Semilir yang diciptakan pada tahun 2005. Tari
Semilir adalah salah satu dari karya-karya Handoyo Mokhamad Yuli. Tari Semilir
adalah tari kreasi yang diciptakan oleh Handoyo Mokhamad Yuli pada tahun 2005.
Tari Semilir berkarakter putri lembut dan dinamis dengan menggunakan kipas
sebagai properti yang menggambarkan semriwinge atau sepoi-sepoinya angin
kumbang di pantai Cirebon. Tari Semilir memiliki keunikan yaitu adanya
penggabungan atau kolaborasi gerak tari 1000 tangan dari Thailand, tari Topeng,
Rudat, dan Tayub dari Cirebon dimana kedua tarian tersebut berbeda budaya. Hal
tersebut termasuk terobosan baru pada era modern seperti sekarang ini. Penamaan
tari Semilir juga mengalami pergantian nama dari tari Semilir menjadi tari
Semilir Angin Kumbang namun kembali menjadi tari Semilir lagi dan sudah
dipatenkan pada tahun 2005. Tari Semilir memiliki berbagai aspek nilai yang
tersirat seperti nilai sosial, nilai pendidikan, dan nilai agama. Tari Semilir
merupakan hasil kolaborasi yang terjadi menyatukan dua budaya yang berbeda
yaitu Thailand dan Cirebon. Gerak tari topeng dan tayub seperti ukel, kiting,
baplang, sembada, dan sembah menjadi contoh gerak yang ada pada tarian semilir
dengan pola lantai yang membentuk seperti tarian 1000 tangan dari Thailand
dengan delapan wujud keanggunan yang bermakna mengisahkan sifat penyayang,
penolongnya, dan serba bisa Dewi Kwan Im. Peneliti sangat tertarik untuk
meneliti tari Semilir karena adanya unsur tari mancanegara yang menjadi
inspirasi gerak tarinya dengan delapan wujud Tay Qian Shou Guan Yin
(mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya), namun tidak
menghilangkan unsur tari tradisi Cirebon sebagai identitas daerah dimana tarian
itu berasal.
Berdasarkan
paparan di atas bahwa tari Semilir merupakan tari kreasi baru yang diciptakan
oleh Handoyo Mokhamad Yuli dan sebagai koreografer adalah Gita Lugina yang
terdapat di sanggar seni Pringgadhing. Hal tersebut diatas peneliti tertarik
ingin mengetahui dan mendeskripsikan tari Semilir karena memiliki keunkan yang
tidak dimiliki oleh tari kreasi yang lain yaitu adanya unsur tari mancanegara
yang menginspirasi baik korografi, busana, ataupun pola lantainya namun tidak
menghilangkan unsur tradisi pada tari Cirebon sebagai identitas suatu daerah.
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji lebih dalam mengenai kemunculan Tari
Semilir sehingga dapat dikenal oleh masyarakat lebih jelasnya peneliti akan
menganalisis tentang proses penciptaan tarian, penyajian struktur koreografi,
busana, rias, dan musik tari Semilir. Peneliti tertarik dan akan mengangkat
permasalahan Tari Semilir tersebut kedalam penelitian yang berjudul “Tari
Semilir di Sanggar Seni Pringgadhing Desa Purbawinangun Kecamatan Plumbon
Kabupaten Cirebon”. Dengan adanya penelitian tari Semilir tetap terjaga
kelestariannya, keasliannya lebih berkembang serta memiliki ciri khas atau
keunikan tersendiri dan tetap menarik sebagai aspek seni budaya penunjang
pariwisata daerah
bapak Handoyo (alm) yang saat itu
sebagai seorang koreografer Kacirebonan sekaligus pendiri Sanggar Pringgadhing,
beliau awalnya mengajarkan tari Ronggeng Bugis di Keraton Kacirebonan kemudian
berkat adanya dukungan dari Petinggi Keraton maka Ronggeng Bugis mulai dikenal
oleh masyarakat dan keluar dari tembok keraton. Dan mulai diajarkan di Sanggar
Pringgadhing oleh bapak Handoyo untuk menjadi seni pertunjukan yang menarik dan
diminati oleh masyarakat.
Sejak saat itulah masyarakat luas mengenal
tari Ronggeng Bugis pertama kali dari Sanggar Pringgadhing. Alasan bapak
Handoyo (alm) mengangkat tari Ronggeng Bugis menjadi seni pertunjukan yang
dapat dinikmati oleh masyarakat luas ialah karena beliau menganggap bahwa tari
Ronggeng Bugis merupakan bagian dari Sejarah Cirebon, selain itu tariannya juga
unik, dan lucu sehingga dapat membuat penonton tertarik untuk menonton atau
bahkan mempelajari tari Ronggeng Bugis

0 Komentar